Thursday, March 14, 2013

WATCH OUT!




Perceraian saat ini menjadi hal yang sangat lumrah, bahkan menjadi gaya hidup bagi kalangan-kalangan tertentu. Alasan orang-orang yang bercerai pun beranekaragam.. Mulai dari alasan klise seperti ketidakcocokan, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Bisakah perceraian itu dihindari? Jawabannya tergantung kepada individu yang bersangkutan.. 
 
Pada tingkat tertentu, sebenarnya perceraian dapat kita hindari.. Untuk kita kaum muda yang masih berpacaran, saatnya membuka mata kita lebar-lebar ketika berhubungan dengan pasangan kita. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa masa pacaran itu buka mata lebar-lebar dehh, nanti kalau sudah menikah, tutup mata rapat-rapat. Artinya apa? Artinya ketika kita masih menjalin hubungan dengan seseorang, kita masih mempunyai kesempatan untuk tindakan pencegahan, tetapi kalau sudah menikah, semua keburukan kejelekan pasangan harus, mau tidak mau diterima.

Dampak perceraian pastinya lebih banyak negatif. Apalagi kaum perempuan, dampak diceraikan itu sangat merugikan dan bahkan bisa membuat depresi. Kaum pria pun banyak yang mengalami kerugian tetapi kebanyakan yang menderita adalah kaum perempuan. Kalau tadi Kak Tasya menjelaskan kurva setelah seseorang bercerai, itu dapat menggambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan.. 

Perempuan setelah perceraian akan mengalami penurunan, bahkan bisa menurun drastis, tetapi kemudian bisa meningkat setelah jangka waktu tertentu. Tetapi kalau pria, kurva awalnya stabil tetapi dalam jangka waktu tertentu baru menurun.. Mengapa wanita pada akhirnya bisa survive, karena wanita lebih memiliki kemampuan untuk bercerita atau sharing dengan orang lain sehingga hal tersebut dapat membantu meringankannya, sedangkan kaum pria, seperti kita tahu, sulit sekali berbagi perasaannya dengan orang lain. Ada beberapa pria yang memang bisa, tetapi hanya sebagian kecil saja.  

Saya pernah mendengar hukum ketertarikan dimana seseorang biasanya tertarik pada orang yang berlawanan dari dirinya, entah itu sifat, kepribadian, cara pandang, dan lain-lain.. Semua orang itu diciptakan unik, berbeda satu dengan lainnya.. Perbedaan-perbedaan itu hendaknya bisa dijadikan tolak ukur. Tolak ukur seberapa besar toleransi kita terhadap perbedaan itu.. Jangan memaksakan suatu hubungan yang sudah kita tahu tidak akan berhasil atau mungkin berhasil tapi dengan proses penyiksaan yang luar biasa.. Maknai cinta itu dengan benar sehingga hubungan yang kita jalani menjadi hubungan yang membangun dan positif. Tindakan pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan, bukan? :) 

Friday, March 8, 2013

ALL ABOUT INTERVIEW (II)



Perkuliahan hari ini masih dilanjutkan dengan pembahasan laporan wawancara namun kali ini di bidang PIO (industri) dan Pendidikan..  Pertama, saya akan membahas serba-serbi menjadi psikolog industri. Dari hasil yang saya rangkum, pengertian wawancara menurut subyek hampir sama yaitu kegiatan tanya jawab untuk memperoleh informasi. Ada juga psikolog yang mengatakan bahwa wawancara adalah proses tanya jawab untuk melihat kepribadian seseorang dan potensi calon karyawan dilihat dari sikap, cara duduk, dan mimiknya.
      
Aplikasi teknik wawancara di bidang industri yaitu ketika akan melakukan rekrutmen, promosi, mutasi, demosi, dan rotasi. Selain itu wawancara diaplikasikan untuk melihat pandangan orang tersebut mengenai perusahaan, mengkroscek CV dan surat lamaran, serta melihat potensi orang tersebut apakah cocok untuk posisi yang sedang dibutuhkan (the man in the right place). Kelebihan wawancara menurut mereka yang bekerja di bidang industri adalah dapat observasi secara langsung sehingga lebih mudah untuk menilai kredibilitas orang tersebut. Namun, wawancara juga ternyata memiliki kelemahan, seperti seseorang yang telah terlatih dapat saja berbohong secara lihai, sehingga gerak-geriknya tidak tertangkap oleh mata mereka. Kelemahan lainnya adalah ketika tidak disertai dengan tes, informasi yang kita asumsikan dari wawancara dapat saja melenceng..

Masalah yang biasa dihadapi psikolog yang bekerja dalam lingkup industri adalah sering timbulnya hallo effect. Ketika calon karyawan baru datang dengan menggunakan pakaian rapi, mereka cenderung menganggap keseluruhan (sikap, kepribadian, dll) baik, tetapi ketika calon karyawan datang dengan kurang rapi, mereka langsung menjudge hal yang kurang baik. Masalah lain juga dihadapi seorang psikolog dimana perusahaannya menetapkan harus ada 2 tahap wawancara, yaitu wawancara dengan pihak HRD dan pihak user. Ketika pihak user dan HRD tidak sejalan, artinya ada salah satu pihak yang tidak setuju, dapat timbul perdebatan. Cara menanganinya biasanya dengan berdiskusi dan win-win solution. Masalah lain yang dapat timbul adalah ketika psikolog menanyakan alasannya pindah dari pekerjaan sebelumnya. Seorang perempuan mungkin saja menceritakan dengan penuh emosional, dengan tangisan, sehingga sebagai seorang psikolog yang ingin melakukan wawancara harus menunggu dengan sabar sampai ia tenang.

Kalau diperhatikan mulai dari aplikasi dan masalah serta penanganan, psikolog di bidang klinis dan PIO memiliki perbedaan. Pada bidang klinis, orang tersebut harus memiliki latar belakang pendidikan psikologi, sedangkan pada perusahaan, jabatan yang biasa kita sebut HRD, dapat diisi oleh orang dengan latar belakang non psikologi, seperti hukum, ekonomi, dan bahkan kejadian nyata lulusan teknik elektro menjadi HRD.
      
Sekarang kita beranjak ke pembahasan mengenai psikolog di bidang pendidikan. Pengertian wawancara menurut mereka juga hampir sama yaitu teknik mengumpulkan data dan investigasi terhadap seseorang untuk mengetahui diagnosa klinis dari klien. Aplikasi dalam dunia pendidikan yaitu ketika penerimaan murid baru. Ada sekolah yang menetapkan kriteria cukup tinggi bagi murid-murid yang akan masuk sehingga membutukan proses wawancara untuk melihat kemauan dan motivasi murid tersebut. Selain itu, teknik wawancara juga digunakan untuk wawancara dengan calon karyawan dan calon guru yang akan masuk ke sekolah tersebut. Lagi-lagi ini ditetapkan sekolah-sekolah tertentu yang memiliki standar yang cukup tinggi.
     
Kelebihan wawancara di bidang pendidikan adalah informasi yang ingin didapat bisa lebih mendalam, lalu rapport yang dibina bisa lebih baik karena pertemuan tatap muka sehingga bisa juga untuk melihat apakah orang tersebut sedang berbohong atau tidak. Kekurangan teknik wawancara adalah memiliki kesan interogasi, bagi murid-murid tertentu, dipanggil oleh guru BP adalah sesuatu yang salah, suatu hal yang menakutkan. Kelemahan lainnya adalah membutuhkan jam terbang tinggi bagi seorang pewawancara untuk dapat melihat seseorang berbohong atau tidak.

Mengenai masalah yang dihadapi guru BP di sekolah yaitu ketika seseorang berpura-pura baik, sehingga dapat diterima di suatu sekolah. Lalu ada juga yang menghadapi anak-anak dimana sulit untuk mendapatkan informasi dari anak-anak yang masih berusia terlalu muda. Cara menanganinya adalah dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu atau menyertakan kegiatan bermain sehingga anak tersebut mau berbagi informasi. Untuk masalah wawancara yang terkesan interogasi, guru BP harus bisa mengakrabkan diri dengan anak-anak sekolah, tidak menghakimi, dan melakukan pendekatan sehingga anak dapat dengan terbuka menceritakan masalahnya.

Setiap setting mempunyai keunikan masing-masing, baik klinis, PIO, dan pendidikan, tinggal kita saja yang lebih memilih bidang apa untuk ditekuni. Pastinya setiap bidang mempunyai kesulitannya masing-masing, tetapi jika kita mau tekun dan berkomitmen, pastinya bidang tersebut akan kita kuasai dengan baik... :)

Long Term vs Short Term Relationship



Kenapa seorang perempuan bisa tertarik pada pria dan sebaliknya? Apa sih yang dilihat dari masing-masing pihak ketika memilih pasangan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampaknya sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari..  Dalam film berjudul The Science of Sex Appeal, dijelaskan secara mendalam motivasi mendasar yang ada dalam diri seorang perempuan dan laki-laki ketika memilih pasangannya. .Ternyata perempuan dan laki-laki memilih pasangan dengan cara yang sangat berbeda lho.. Bahkan bisa dibilang bertolak belakang.. Coba kita lihat uraian berikut yaahh..

Film tersebut mengungkap banyak hal yang semula tidak saya ketahui, seperti perempuan ketika berada pada masa subur, wajah dan suaranya tampak berbeda.. Suara mereka menjadi lebih tinggi, dan wajah mereka seperti lebih bercahaya..  Apa benar yahh? Semula juga saya ragu, tetapi ketika melihat bahwa itu adalah hasil penelitian dan menonton sendiri dengan kedua mata saya, saya jadi percaya.. Hehe Perempuan ketika masa subur juga dilaporkan lebih menyukai bau pria yang biasanya tidak disukai para wanita.. Ajaib yah, semua dipersiapkan pada saat masa subur perempuan sehingga ia dapat mengandung seorang anak..

Untuk masalah ketertarikkan, film tersebut menjelaskan bahwa ketika laki-laki tertarik pada seorang perempuan, secara tidak sadar mereka melihat petunjuk-petunjuk kesuburan dari perempuan tersebut.. Kesuburan seorang wanita terlihat dari muka dan bentuk tubuhnya.. Melalui penelitian, ditemukan juga bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang memiliki suara yang lebih tinggi karena diasosiasikan dengan sifat feminin.. Mereka mencari perempuan yang nantinya bisa memberikan mereka keturunan, bisa merawat anak-anak mereka..

Bagi para wanita, ternyata hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih mencari pria yang lebih melindungi, lebih memiliki status secara sosial dan finansial.. Untuk masalah wajah dan suara, wanita lebih memilih pria yang berwajah maskulin, bertubuh kekar, perut rata, dan suara dengan titinada rendah.. Semua itu berdasarkan naluri wanita yang selalu ingin dilindungi.. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar lelucon kalau seorang wanita memilih pria yah yang cukup lah.. Cukup beli mobil, cukup beli rumah.. hehehe… Yah itu memang memberi keamanan dan kenyamanan serta perlindungan bagi para wanita.. Tapi ketika syarat-syarat di atas menjadi segalanya bagi seorang wanita, bagaimana bisa ia menjalin hubungan jangka panjang, bagaimana pula nasib para pria yang tidak memiliki syarat-syarat di atas….

Hubungan jangka panjang membutuhkan sesuatu yang lebih “waw” sebagai fondasi yang kokoh.. Ketika kita melandaskan hubungan kita hanya berdasarkan ketertarikan fisik, kenyamanan semata, apa yang dapat menopang kita dan pasangan di kala sulit.. Hidup ini bukan hanya sekadar senang-senangnya saja, bukan?  Bagi saya pribadi, karakter jauh lebih penting dibandingkan hal-hal sementara lainnya… Memang ketika kita membicarakan ketertarikan, kita mungkin hanya berbicara untuk jangka pendek.. Untuk jangka panjang, kita membutuhkan sesuatu yang lebih stabil, itu yang saya maksud dengan “waw” hehehe.. Bagaimana dengan anda? Apakah hubungan yang sedang anda bangun berlandaskan pada sesuatu yang stabil dan kokoh? Untuk yang belum memiliki pasangan, yang mana yang akan anda pilih, hubungan jangka panjang atau jangka pendek.. Make your own choice! 

Saturday, March 2, 2013

ALL ABOUT INTERVIEW



Kuliah teknik wawancara hari itu menjelaskan hal-hal mengenai wawancara seperti pengertian, kelemahan dan kelebihan teknik tersebut, masalah yang dihadapi oleh psikolog yang menggunakannya, serta aplikasinya. Pembahasan lebih terstruktur karena teknik wawancara dibahas satu per satu mengenai aplikasinya di dunia klinis (baik anak maupun dewasa), pendidikan, maupun PIO. Hari ini pembahasan dibatasi pada dunia klinis (anak dan dewasa).

Secara keseluruhan dan secara umum, menurut subyek yang menjadi narasumber, pengertian wawancara merupakan proses kegiatan tanya jawab.. Ada subyek yang mengatakan pengertian wawancara sebagai senjata kita para lulusan psikologi nantinya.

Setelah itu, membahas mengenai kelemahan teknik wawancara. Melalui kuliah hari itu, yang dapat saya rangkum mengenai kelemahan teknik tersebut adalah kalau tidak terstruktur, pembicaraan bisa melebar kemana-mana, untuk diterapkan pada anak-anak masih sulit karena biasanya anak menjawab seadanya bahkan untuk kasus tertentu seperti ADHD, anak-anak belum tentu akan memberikan informasi yang kita perlukan karena terlalu aktifnya anak tersebut.

Kelebihan teknik tersebut adalah jika digabungkan dengan observasi, akan menjadi alat untuk mendapat informasi yang canggih, tanpa harus melewati rangkaian tes yang panjang dan rumit. Teknik wawancara juga dapat mengungkap kebohongan, dengan melihat gerak gerik orang yang diwawancarai.

Aplikasi untuk dunia klinis biasa dipadukan dengan observasi untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Aplikasi teknik wawancara dalam dunia klinis lebih akan fokus ketika pertanyaan dibuat terlebih dahulu sehingga jalannya wawancara akan lebih terstruktur.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia klinis adalah ketika mewawancarai anak dengan ADHD, mereka harus memakan waktu lebih banyak karena anak tersebut harus diberi mainan terlebih dahulu, diberi waktu untuk pendekatan dengan psikolog tersebut. Belum lagi kalau anak tersebut terlalu asik sendiri dengan mainannya, akan menjadi suatu masalah baru. Penanganan yang dapat dilakukan ketika anak terlalu asik dan psikolog belum mendapatkan data, bisa melibatkan orang terdekatnya seperti pengasuh atau orangtuanya untuk sementara mengambil alih, kemudian psikolog masuk untuk mendekati anak tersebut. 

Masalah juga dapat terjadi ketika tidak hanya anak yang mengalami ADHD, tetapi orangtuanya juga sehingga orangtua tersebut ketika diwawancara, dapat lompat ke satu topik lain dengan cepat. Wawancara akan terhambat jika menemui masalah seperti ini. Masalah lain juga dapat berasal dari si pewawancara, yaitu pewawancara yang mudah lupa sehingga jawaban subyek mudah hilang dari ingatannya. Pada waktu pertama kali wawancara, ada yang mengalami masalah tidak fokus pada jawaban subyek karena terlalu berfokus pada pertanyaan apa yang selanjutnya akan ditanyakan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam terbang dalam mewawancara, hal tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Masing-masing bidang memiliki kesulitannya, walaupun sama-sama dalam lingkup klinis, tetapi yang menjadi klien kita adalah orang yang berbeda, itulah yang menjadikan masing-masing bidang unik, klinis anak dan klinis dewasa... 

Free Yourself From Homophobic!



Homoseksual… rasanya ketika mendengar kata tersebut, kebanyakan orang langsung jijik, merendahkan, dan menjelek-jelekkan. Homoseksual itu berarti ketertarikan terhadap sesama jenis, bisa disebut lesbi jika itu sama-sama perempuan, dan disebut gay jika pelakunya pria yang tertarik dengan sesama pria. Ada juga yang disebut dengan biseksual ketika seseorang dapat tertarik pada pria maupun wanita sekaligus. Setelah belajar mengenai homoseksual di kelas periseks, saya sendiri baru sadar bahwa ternyata menentukan orientasi seksual itu tidak mudah loh, menentukan seseorang homo atau tidak itu perkara yang sulit. Tidak hanya dengan melihat seorang pria tertarik dan melakukan hubungan seksual dengan pria, itu berarti langsung kita cap dengan sebutan gay. Kasusnya tidak sesimpel itu..

Contoh kasus yang saya dapatkan di kelas adalah bagaimana jika di sebuah penjara, seorang pria yang memang di komunitas nya hanya lelaki, ia melakukan hubungan seksual dengan pria juga tetapi ketika melakukan hubungan seksual, ia berfantasi mengenai wanita.  Apa orientasi seksual pria tersebut? Seketika kita berpikir bahwa ia adalah gay, tetapi kalau kita lebih cermat, dia melakukan hubungan seksual sambil berfantasi mengenai wanita, itu bisa dikatakan sebagai heteroseksual juga, ia mencari pemuasan lewat laki-laki karena memang tidak ada wanita di komunitasnya, tetapi ia mendapat kepuasan ketika berfantasi seksual mengenai wanita. 

Tidaklah mudah menentukan orientasi seksual seseorang hanya dari perilaku seksualnya saja, karena manusia punya fantasi, kedekatan emosional, dll… Di Amerika, homoseksual tidak dikategorikan sebagai gangguan, tetapi di Indonesia rasanya kaum homoseksual langsung dicap jelek karena ya memang Indonesia kental sekali norma agama dan hukumnya sehingga kalau berpegang pada agama pasti langsung mendapat komentar negatif.. Ketika kita melihat kembali kaum homoseksual, kita harus berpandangan luas, jangan hanya bisa menjudge mereka… Lihatlah dari berbagai perspektif, mungkin mereka pun tidak mau seperti itu, mereka juga bingung dengan diri mereka.. Sangatlah kejam kalau kita hanya bisa melihat dari kacamata kita, tanpa melihat dari kacamata mereka.

Setelah kasus homoseks dan seluk beluk mengenai homoseks diketahui, seharusnya kita lebih terbuka, lebih dapat menerima mereka. Pengetahuan di otakmu bertambah, seharusnya perbesarlah juga hatimu terhadap mereka.. Tugas kita mudah, janganlah mendiskriminasi mereka.. jangan menjadi kaum homophobic (kaum yang benar-benar anti terhadap homo).. Free yourself from homophobic